Langit Arafah yang Menepati Janji

 




Oleh: Abu Azzam

Gema yang Meruntuhkan Lelah

Suara pengeras suara panitia membelah langit perkemahan, lirih namun bergetar hebat.

"Peserta Kemah Bakti Nusantara (Kembara) yang paling sepuh, akan diberikan hadiah khusus oleh Ketua Fraksi, atas instruksi langsung dari Presiden PKS".

Seketika, sunyi yang sempat menggelayuti lapangan itu pecah. Gemuruh takbir membumbung, menggetarkan daun-daun dan tenda yang berserak. Sorak-sorai riuh rendah, disusul teriakan yang serempak mengintip langit: "Umrah... Umrah! Allahu Akbar!"

Namun di sudut barisan itu, tubuh renta ini sedang bersila lelah yang teramat sangat. Sepasang mata seolah ditarik paksa untuk memejam, menagih hak istirahat yang terenggut selama dua malam sisa perjuangan. Riuh sekitar di sekitar mengabur.

Hingga tiba-tiba, di tengah hiruk-pikuk yang semakin memuncak, sebuah nama diteriakkan. Satu kali, dua kali, lalu menjelma paduan suara ribuan orang. Mereka memanggil nama saya. Dan nama istri saya.

Kami diminta maju ke tengah forum. Menembus lautan manusia yang sedang merayakan keajaiban.

Fragmen Penyesalan di Padang Arafah

Langkah kaki yang gemetar melemparkan ingatan saya pada pusaran waktu bertahun-tahun lalu.

Kala itu, Allah mengetuk pintu takdir kami dengan rezeki yang luar biasa. Saya diberangkatkan ke tanah suci. Sendiri. Tanpa wanita yang paling setia menemani hidup saya. Saat itu, dalam kepasrahan, saya hanya mampu bersyukur walau separuh jiwa tertinggal di tanah air.

Namun, pertahanan itu runtuh di Padang Arafah.

Di bawah langit Arafah yang mulia, tangis saya tumpah sejadi-jadinya. Di antara jutaan hamba yang bersujud dan berdoa, dada ini sesak oleh sesal yang menghunjam. Air mata itu bukan sekadar air mata syukur, melainkan air mata kerinduan dan rasa bersalah yang teramat dalam karena tak mampu membawa serta istri tercinta. Rasa sayang, rindu, dan pilu bercampur aduk di hadapan Sang Pencipta. Mengapa hanya saya? Mengapa bukan kami berdua?

Sepanjang mengarungi bahtera rumah tangga, jangankan hadiah mewah, hadiah sederhana pun nyaris tak pernah mampu saya belikan untuknya. Hidup kami adalah perlombaan tanpa akhir antara mencukupi kebutuhan dapur dan membiayai pendidikan anak-anak. Di ujung usia yang kian senja ini, ada satu doa yang diam-diam saya langitkan: Ya Allah, izinkan hamba memberikan hadiah terbaik untuknya sebelum raga ini kembali ke tanah.

Bidadari di Kemah Bakti

"Pak... Pak Wahidin, ayo Pak!"

Sebuah tepukan lembut di pundak membuyarkan lamunan masa lalu itu. Seorang panitia dengan sigap membantu tubuh tua ini bangkit dari kelelahan di tengah barisan.

Saya mengerjapkan mata, dan hal pertama yang saya lihat adalah wajah istri di depan saya. Di tengah kilau cahaya siang hari, haru mengepung, wajahnya siang itu menjelma layaknya bidadari surga. Begitu teduh. Begitu indah pemandangan, di saat senyum Istri yang saya hafal sepanjang hidup menemani jatuh bangunnya hidup kami.

Kami saling menatap, lalu tangis kami pecah bersamaan. Tangis yang sama yang pernah tumpah sendiri di tanah Arafah, kini menyatu di medan Kemah Bakti Nusantara PKS. Kami tergugu dalam ketidakpercayaan atas skenario langit yang begitu bermurah hati.

Inilah hadiah terbesar yang Allah titipkan untuk kami di sisa usia. Sebuah jawaban kontan atas doa-doa rahasia yang melintasi samudera bertahun-tahun lalu.

Air mata di Arafah itu, hari ini dijemput oleh takdir-Nya di sini.

Terima kasih, Pak Presiden PKS. Terima kasih, Pak Ketua Fraksi. Terima kasih untuk seluruh saudara seiman yang jiwanya bertaut dalam kebaikan. Di tempat ini, di Kemah Bakti ini, keadilan dan cinta itu mewujud nyata.

Terima kasih, PKS.

Komentar